JALAN YANG BERPUTAR

PERJALANAN

Tidak ada alasan untuk meninggalkan kamu. Inilah saat terbaik untuk kita bersama sambil menikmati sinar matahari yang merupakan surga tahunan bagi manusia. Kamu masih ingin duduk di sebelahku dengan memegang tangan ini serta menatap mata indah ini. Sambil mengosongkan pikiran sejenak. Pertanyaan kini terucap dari bibir manis itu : Apakah kau masih menyayangiku ?

Pintu hati sejenak marah, mengapa kamu tanyakan itu? Apa aku menunjukkan rasa tidak menyayangimu lagi? Aku hanya bisa terdiam. Menatap indahnya wajahmu dan menariknya bola matamu. Aku tersenyum tipis, Hatimu mulai terusik. Kamu mengatakan itu seolah-olah aku tak akan pernah bersamamu lagi. Aku tahu saat ini akan hadir pertengkaran lagi.. Hanya keajaiban yang bisa membuat kami tidak bertengkar setiap kali bersama.
Bertahun-tahun, aku berharap dan berdoa keajaiban itu akan datang. Namun, keajaiban tak datang-datang. Hanya sesekali aku lelah tak menghiraukan, sehingga percekcokan tidak berlangsung. Tanpa ucapan tambahan yang mengisyaratkan kalau aku masih mencinta, menemani kamu selalu dan berjuang agar hubungan ini tidak berakhir. Karena kita menganggap terlalu sulit untuk hidup sendiri, melukis di setiap kesepian. Keajaiban yang aku miliki punya tanggal kedaluwarsa. Cukup dua tahun saja. Kami bertengkar hebat seminggu sebelum akhirnya memutuskan bahwa kami harus berakhir. Padahal aku tidak merasa kami tidak cocok. Bahkan sebenarnya kami cocok, sangat cocok. Bukankah kami tidak terlihat akan berkahir, sampai akhirnya benar-benar harus berhenti dan berakhir.
Aku tidak tahu persis apa yang terjadi. Bagaimana mungkin kami berpisah, kami baik-baik saja. Hanya memiliki sifat yang selalu mengundang pertengkaran. Namun, kami memahami sifat iu, justru ingin memadamkan apa yang menjadi api diantara hubungan kami. Kami berusaha menyiram api itu dengan air tetapi terlambat. Api menyebar diseluruh jiwa dan raga hingga kami berkahir dan benar-benar selesai.

Kamu khawatir aku akan kesepian tanpa dirimu. Kenapa kamu begitu? Aku dulu bertanya. Karena kamu sudah menyatu di diriku ini, jawab dirinya. Aku pun bertanya-tanya haruskah dia mulai menyabotase hati ini hingga aku benar-benar tak dapat pisah dengannya? Tapi, untungnya, sebelum itu terjadi, kami sepakat. Dia mengizinkan aku untuk sendiri dan mandiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s